China & Aksi Mogok Pekerja Gas Kerek Harga Batu Bara

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara melonjak selama pekan lalu di tengah tingginya permintaan dari China dan juga sentimen lainnya termasuk aksi mogok pekerja gas di Australia.

Menurut data Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle kontrak Oktober ditutup di posisi US$166,15 per ton per Jumat (15/9/2023) atau naik 4,17% dalam sepekan.

Harga batu bara sempat berada di level US$168 per ton pada perdagangan Rabu (13/9/). Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 8 Mei 2023 atau empat bulan terakhir.

Sepanjang bulan ini, harga batu bara telah menguat 7,55%. Kenaikan sementara bulan ini cukup baik, khususnya bila dibandingkan Agustus yang mampu melesat 12,49% atau tertinggi sepanjang tahun.



Pergerakan harga batu bara tidak dapat terlepas dari sentimen China sebagai produsen, konsumen, importir batu bara terbesar di dunia.

Impor batu bara Negeri Tirai Bambu mencatat rekor tertinggi Agustus sebanyak 44,33 juta ton. Jumlah tersebut melesat 51% dibanding setahun lalu (year on year/yoy) dan bertumbuh 12,9% dibanding Juli (month on month/mom).

Dalam delapan bulan sejak awal tahun ini, impor batu bara bertambah signifikan 82% ke 306 juta ton, menurut data resmi yang dikutip dariReuters.Tingginya tingkat impor China disebabkan produksi batu bara China yang tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan pembangkit listrik batu bara, bahkan batu bara China sempat lebih mahal dibanding harga impor.

Tingginya penggunaan pembangkit listrik kotor ini terjadi seiring dengan pembangkit listrik tenaga air yang melemah, akibat gelombang panas yang mengurangi volume air.

Peningkatan permintaan Tiongkok juga melesat pada komoditas selain batu bara, seperti minyak dan bijih besi. Impor minyak meningkat seiring dengan Tiongkok yang telah membuka dari pengetatan penularan covid-19, sehingga tingkat perjalanan meningkat dan permintaan bensin dan bahan bakar pesawat melesat. Hal ini turut menjadi penyebab harga minyak brent berada di atas US$90 per barel.

Baca Juga  Universitas Budi Luhur Ajak Gen Z Bangga Budaya Indonesia

Berbeda dengan China, India terpantau memiliki stok batu bara yang cukup tinggi lebih tinggi 39% dibanding tahun lalu, kata Menteri Batubara Pralhad Joshi pada hari Rabu yang dikutip dariCoal Mint.

Kendati demikian,tingginya stok disebabkan oleh permintaan listrik India yang juga tinggi telah menyentuh rekor 239,9 GigaWatt (GW), lelbih tinggi dari perkiraan Otoritas Listrik Pusat (CEA).

Stok yang tinggi diperkirakan masih akan kurang memenuhi kekurangan listrik September, sehingga KementerianTenaga Listrikmengarahkan pembangkit listrik dicampur dengan batu bara impor sebanyak 4% hingga Maret 2024.

Kementerian dalam sebuah surat mengatakan bahwa meskipun terjadi peningkatan pasokan batu bara dalam negeri selama kuartal pertama tahun fiskal 2024, jumlah tersebut masih belum memenuhi kebutuhan.

Beralih ke energi Eropa, penurunan pembangkit listrik tenaga angin Jerman diperkirakan turun 7,5 gigawatt (GW) menjadi 3,3 GW pada hari Kamis sementara pasokan Perancis diperkirakan turun 600 megawatt (MW) menjadi 740 MW, data LSEG menunjukkan.

Aksi Mogok Pekerja LNG

Pasar melihat harga batu bara tetap berada di level tinggi di tengah kekhawatiran mengenai pasokan gas alam. Perang Rusia di Ukraina belum terlihat akan berakhir, dan pemogokan pekerja terus berlanjut di fasilitas gas alam cair di Australia.

“Harga akan terus naik menjelang musim dingin,” kata Yoshiaki Takahashi, peneliti senior di Institute of Energy Economics, Jepang, dikutip dari Nikkei, Jumat (15/9).

Melansir dari Reuters, Sabtu (16/9), serikat pekerja Aliansi Lepas Pantai (Offshore Alliance union) Australia mengatakan pada Sabtu, para pekerja telah memulai pemogokan 24 jam di pabrik gas alam cair (LNG) milik Chevron di Australia barat, sebagai bagian dari peningkatan ‘aksi industrial’ yang mungkin akan memperpanjang pemogokan hingga pertengahan Oktober.

Baca Juga  Merayakan Budaya Indonesia Melalui Adikarya Batik Nusantara

Pemogokan penuh terjadi setelah para pekerja pada Kamis meningkatkan aksi terbatas selama enam hari.

Hingga akhir September, anggota Offshore Alliance, sebuah koalisi dua serikat pekerja, kini dapat melakukan mogok kerja hingga 24 jam setiap hari dan menolak tugas seperti memuat kapal tanker LNG.

Fasilitas LNG Gorgon dan Wheatstone Australia milik perusahaan menyumbang lebih dari 5% pasokan global.

“Tiga fasilitas Chevron di Pantai Barat mengalami kekacauan karena anggota Offshore Alliance mengunci ketiga fasilitas Chevron selama 24 jam ke depan,” kata serikat pekerja tersebut dalam sebuah postingan di Facebook.

“Tiga fasilitas Chevron di Pantai Barat mengalami kekacauan karena anggota Offshore Alliance mengunci ketiga fasilitas Chevron selama 24 jam ke depan,” kata serikat pekerja tersebut dalam sebuah postingan di Facebook.

Pemogokan yang berkepanjangan dapat mengganggu ekspor dan menaikkan harga LNG, yang digunakan untuk pembangkit listrik.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Asia Panas Mendidih, Ini Efeknya ke Permintaan Batu Bara BYAN

(trp/trp)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *