Kode The Fed Ini Bikin Rupiah Meringis

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disaat bank sentral AS (The Fed) mengisyaratkan sikap hawkish ke depannya.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,16% terhadap dolar AS di angka Rp15.395/US$ pada hari Senin (25/9/2023) dan di tengah perdagangan sempat melemah ke posisi Rp15.408/US$.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada Senin (25/9/2023) pukul 15.01 WIB, tercatat DXY menguat di angka 105,66 atau lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (22/9/2023) di posisi 105,58.



Pelemahan rupiah terjadi pasca The Fed yang masih berjuang dalam menekan inflasinya. Sebagai informasi, Amerika Serikat (AS) mencatatkan inflasi sebesar 3,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Agustus 2023, naik dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,2% YoY.

Alhasil, The Fed mengisyaratkan mereka akan tetap hawkish dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan.

Hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) juga mengindikasikan jika kebijakan moneter yang ketat akan tetap berlanjut hingga 2024 dan akan memangkas suku bunga lebih sedikit dari indikasi sebelumnya.

Berdasarkan perangkat FedWatch, survei menunjukkan 20,3% The Fed akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) pada FOMC November. Sementara pada FOMC Desember, persentasenya mengalami peningkatan menjadi 35,5% untuk The Fed mengalami peningkatan menjadi 5,50-5,75%.

Kendati tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) baru saja merilis M2 (uang beredar) yang tercatat bertumbuh positif pada Agustus 2023.

Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2023 tumbuh positif. Posisi M2 pada Agustus 2023 tercatat sebesar Rp8.363,2 triliun atau tumbuh 5,9% (yoy), setelah bulan sebelumnya tumbuh sebesar 6,4% (yoy). Perkembangan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan uang kuasi sebesar 8,4% (yoy)

Baca Juga  Sangat Ketat! Ini 3 Larangan di Brunei Darussalam Ini Perlu Dipatuhi

Perkembangan M2 pada Agustus 2023 terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit. Penyaluran kredit pada Agustus 2023 tumbuh sebesar 8,9% (yoy), setelah tumbuh 8,4% (yoy) pada Juli 2023 sejalan dengan perkembangan kredit produktif.

Di sisi lain, aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 4,7% (yoy), setelah bulan sebelumnya tumbuh sebesar 9,0% (yoy). Sementara itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) relatif stabil pada Agustus 2023 dibandingkan dengan level pada periode yang sama tahun sebelumnya, setelah terkontraksi sebesar 12,1% (yoy) pada bulan Juli 2023.

Selain itu, transaksi Bank Indonesia (BI) pada 18 – 21 September 2023, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp1,67 triliun terdiri dari jual neto Rp1,03 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), beli neto Rp1,38 triliun di pasar saham dan beli neto Rp1,32 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


The Fed Masih Bikin Cemas, Rupiah Sentuh Rp 15.025/USD

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *