Ulah AS dan China, Rupiah Melemah 8 Bulan Terakhir

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah drastis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang dipengaruhi faktor eksternal dan internal.

Merujuk dari Refinitiv, rupiah ditutup di angka Rp15.485/US% atau melemah 0,58% terhadap dolar AS dan bahkan di tengah perdagangan rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp15.500/US$. Posisi ini merupakan yang terparah sejak 10 Januari 2023 atau sekitar delapan bulan terakhir.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada Selasa (26/9/2023) pun mengalami penguatan menjadi 106,09 atau naik 0,08% jika dibandingkan penutupan perdagangan kemarin yang berada di posisi 105,99.



Pelemahan rupiah tak lepas dari indeks dolar AS yang terapresiasi sejak 21 September atau empat hari berturut-turut. Saat ini, DXY berada di posisi 106,09. Hal ini terjadi mengingat sikap hawkish atau pengetatan bank sentral AS (The Fed) yang akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) pada tahun.

Berdasarkan perangkat FedWatch, survei menunjukkan 23,7 % The Fed akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) pada FOMC November. Sementara pada FOMC Desember, persentasenya mengalami peningkatan menjadi 34,3% untuk The Fed mengalami peningkatan menjadi 5,50-5,75%.

Hal ini The Fed lakukan untuk memenuhi target inflasi AS yakni 2%. Untuk diketahui, AS mencatatkan inflasi sebesar 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2023, naik dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,2% yoy.

Selain itu, China sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia dan merupakan tujuan ekspor utama Indonesia ini juga mengalami perlambatan.

Ekonomi China hingga kuartal II-2023 masih berhasil tumbuh positif, namun berada di bawah ekspektasi pasar. Ke depan negeri tirai bambu tersebut akan alami banyak tekanan sehingga alami pelemahan signifikan. Hingga akhir tahun beberapa ekonomi memperkirakan ekonomi China tumbuh hanya 4%.

Baca Juga  Jasa Service Ac Di Kota Semarang Versi Kami

Tekanan dalam jangka panjang, berkaitan dengan persoalan struktural di China. Pertama adalah krisis sektor properti yang dipicu oleh Evergrande. Hal ini berpengaruh besar bagi industri properti dan keuangan.

Lebih lanjut, Foreign Direct Investment (FDI) juga turun sangat dalam terutama pertengahan tahun lalu dan semester-I tahun ini, jadi ini menggambarkan China akan mengalami tekanan sangat berat.

Sementara dari domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melesat ke 6,81% pada perdagangan hari ini. Posisi tersebut adalah yang tertinggi sejak 31 Maret 2023 atau lebih dari lima bulan terakhir.

Imbal hasil yang naik menandai harga SBN sedang jatuh karena diobral investor. Alhasil kondisi rupiah semakin terpuruk dan tertekan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Breaking News: Rupiah Anjlok & Tembus Level Rp 15.000/USD

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *