UU Kesehatan Disebut Babak Baru Dunia Farmasi


Jakarta: Pengesahan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dinilai menjadi babak baru dunia farmasi di Indonesia. Hal tersebut didukung penuh, lantaran memuat berbagai upaya transformasi teknologi kesehatan.

“Salah satu tujuan utamanya, meningkatkan kemudahan akses dan kualitas layanan kesehatan untuk seluruh masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia,” ujar Direktur EMOS Timotius Samanuli dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 23 September 2023.

Hal tersebut, kata Timotius, sesuai dengan visi pihaknya. Yakni, membangun ekosistem digital yang menyediakan produk dan layanan kesehatan yang berkualitas.
 


Pemaparan ini diungkap dalam talkshow yang diinisiasi pihaknya. Sehingga, dapat memberi insight seputar dunia kefarmasian setelah disahkannya Undang-Undang Kesehatan.

“Terutama, karena ini merupakan Undang-Undang pertama yang menjadi payung hukum tertinggi untuk apoteker dalam memberikan pelayanan kefarmasian yang berkualitas dan terstandar serta memiliki daya saing secara global,” kata dia.

Pihaknya terlibat dalam Transformasi Teknologi Kesehatan yang merupakan bagian dari enam pilar Transformasi Kesehatan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Timotius mengatakan ada pemanfaatan teknologi yang digenjot pihaknya untuk mempermudah proses distribusi obat-obatan dan layanan kesehatan lainnya, dari pedagang besar farmasi ke fasilitas pelayanan kesehatan.

“Bahkan, juga pendistribusian produk secara terjangkau dan cepat ke fasilitas pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Di sisi lain, EMOS sebagai penyedia platform digital memberikan dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menyediakan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan,” papar Timotius.

National EMOS Talkshow menghadirkan sejumlah praktisi di bidang kefarmasian sebagai pembicara. Sekretaris Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dita Novianti Sugandi Argadiredja; dan Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Mimin Jiwo Winanti, terlibat menjadi pembicara.

Para pembicara tersebut membagikan persepsi yang dianalisa dan teruji dalam beberapa fakta dalam membuat strategi demi keberlanjutan pelayanan kefarmasian yang berkualitas. Sejumlah strategi juga dibahas terkait memanfaatkan tren dan teknologi dalam memudahkan pelayanan kefarmasian, khususnya yang sudah tersedia di aplikasi SATUSEHAT.

Jakarta: Pengesahan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dinilai menjadi babak baru dunia farmasi di Indonesia. Hal tersebut didukung penuh, lantaran memuat berbagai upaya transformasi teknologi kesehatan.
 
“Salah satu tujuan utamanya, meningkatkan kemudahan akses dan kualitas layanan kesehatan untuk seluruh masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia,” ujar Direktur EMOS Timotius Samanuli dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 23 September 2023.
 
Hal tersebut, kata Timotius, sesuai dengan visi pihaknya. Yakni, membangun ekosistem digital yang menyediakan produk dan layanan kesehatan yang berkualitas.
 
Baca Juga  DKI Bukan Lagi Ibukota, Kemacetan Bakal Berkurang Signifikan?

Pemaparan ini diungkap dalam talkshow yang diinisiasi pihaknya. Sehingga, dapat memberi insight seputar dunia kefarmasian setelah disahkannya Undang-Undang Kesehatan.



“Terutama, karena ini merupakan Undang-Undang pertama yang menjadi payung hukum tertinggi untuk apoteker dalam memberikan pelayanan kefarmasian yang berkualitas dan terstandar serta memiliki daya saing secara global,” kata dia.
 
Pihaknya terlibat dalam Transformasi Teknologi Kesehatan yang merupakan bagian dari enam pilar Transformasi Kesehatan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Timotius mengatakan ada pemanfaatan teknologi yang digenjot pihaknya untuk mempermudah proses distribusi obat-obatan dan layanan kesehatan lainnya, dari pedagang besar farmasi ke fasilitas pelayanan kesehatan.
 
“Bahkan, juga pendistribusian produk secara terjangkau dan cepat ke fasilitas pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Di sisi lain, EMOS sebagai penyedia platform digital memberikan dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menyediakan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan,” papar Timotius.
 
National EMOS Talkshow menghadirkan sejumlah praktisi di bidang kefarmasian sebagai pembicara. Sekretaris Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dita Novianti Sugandi Argadiredja; dan Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Mimin Jiwo Winanti, terlibat menjadi pembicara.
 
Para pembicara tersebut membagikan persepsi yang dianalisa dan teruji dalam beberapa fakta dalam membuat strategi demi keberlanjutan pelayanan kefarmasian yang berkualitas. Sejumlah strategi juga dibahas terkait memanfaatkan tren dan teknologi dalam memudahkan pelayanan kefarmasian, khususnya yang sudah tersedia di aplikasi SATUSEHAT.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(ADN)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *